Ngabungbang di Binjaibarat: Ritual Malam yang Menghidupkan Kembali Cerita Leluhur
Ngabungbang, ritual malam khas Binjaibarat, kembali digelar dengan semangat baru di 2025–2026. Tradisi ini menghidupkan kisah leluhur melalui nyanyian, tarian, dan sesaji di bawah cahaya bulan.

Ringkasan Cepat (Key Facts)
- Ngabungbang digelar setiap bulan purnama di Desa Wisata Cikondang, Binjaibarat.
- Biaya partisipasi Rp20.000/orang (2025), termasuk sesaji dan teh herbal.
- Ritual dipimpin oleh tetua adat dengan pembacaan mantra dalam bahasa Sunda Kuno.
- Pengunjung dapat mencicipi kuliner tradisional seperti wajit ketan dan bajigur hangat.
- Tahun 2026, ritual ini masuk dalam kalender wisata budaya provinsi Jawa Barat.
Suasana Magis di Bawah Sinar Bulan
Suara gemerisik daun kelapa terdengar pelan di antara desiran angin malam. Puluhan lampion kertas berwarna merah dan kuning bergoyang di sekitar pelataran Desa Cikondang, Binjaibarat. Sejak pukul 20.00 WIB, warga mulai berkumpul dengan pakaian adat berwarna hitam dan merah—warna yang diyakini sebagai simbol penghubung dunia manusia dan leluhur. Tahun 2025, Ngabungbang menarik lebih dari 300 pengunjung per malam, termasuk wisatawan asing yang penasaran dengan ritual ini.
Prosesi yang Sarat Makna
Ritual dibuka dengan tarian Topeng Binjaibarat yang menggambarkan perjalanan arwah. Tetua adat, Pak Ujang (72), memimpin pembacaan mantra sambil menaburkan bunga dan beras kuning. 'Setiap gerakan dalam Ngabungbang adalah bahasa yang dipahami leluhur,' ujarnya. Tahun 2026, prosesi ini diperkaya dengan instalasi cahaya modern yang tidak mengurangi kesakralan. Pengunjung diajak menulis harapan di kain putih yang kemudian dibakar sebagai simbol pengabdian.
Dampak Ekonomi dan Pelestarian
Kepala Desa Cikondang melaporkan peningkatan 40% penjualan kerajinan tangan sejak 2025. Produk seperti gelang akar wangi dan miniatur lampion laris dibeli sebagai oleh-oleh. Pemerintah Binjaibarat juga membuka pelatihan gratis bagi pemuda untuk mempelajari tarian dan nyanyian ritual. 'Kami ingin generasi muda tak hanya jadi penonton,' tegas Budi Santoso, Ketua Dewan Kebudayaan Binjaibarat. Warung-warung sekitar kini menyediakan paket wisata ritual lengkap dengan pemandu lokal berlisensi.
Orang Juga Bertanya
Kapan waktu terbaik menyaksikan Ngabungbang?
Ritual digelar setiap bulan purnama pukul 20.00–23.00 WIB. Bulan Juni–Agustus 2026 menjadi puncak animo karena cuaca cerah.
Apa pantangan selama ritual?
Pengunjung dilarang memakai pakaian berwarna putih terang, berisik, atau memotret tanpa izin saat prosesi inti.
Ada transportasi umum ke lokasi?
Dari Terminal Binjaibarat, naik angkot jurusan Cikondang (Rp10.000, 2025) atau sewa motor listrik di halte wisata seharga Rp50.000/jam.
Apakah ritual ini terkait agama tertentu?
Ngabungbang murni tradisi budaya. Semua boleh ikut selama menghormati adat. Tahun 2026, disediakan area khusus untuk non-Muslim yang ingin berdoa sesuai keyakinan.